Lagu CInta

">">

Masa Transisi Saat Melahirkan

Kamis, 18 November 2010

Pada saat proses persalinan berlanjut, tanda-tanda vital anda (denyut nadi, pernapasan, dan tekanan darah) akan lebih sering diperiksa. Dokter akan terus memantau perubahan posisi bayi, suhu tubuh anda, serta lama dan kekuatan kontraksi. Pada fase ini, kontraksi berlangsung lebih lama.
Lebarnya pembukaan leher rahim akan diukur melalui pemeriksaan vaginal. Setiap kontraksi akan memperlebar bukaan. Bila anda bertanya kepada dokter tentang proses persalinan anda, maka dia akan menjawab bahwa anda dalam tahap pembukaan. Pada saat leher rahim hampir terbuka penuh-selebar 10 cm (sekitar 4 in)-berarti tahap pertama sudah selesai dan anda kini memasuki fase transisi.
Fase transisi mungkin adalah periode yang cukup berat. Anda barangkali merasa tidak dapat bertahan tanpa bantuan penawar rasa sakit. Timbul dorongan yang semakin kuat untuk mengejan, tetapi anda diminta tidak melakukannya sampai dokter yakin bahwa leher rahim telah membuka penuh.
Fase ini hanya berlangsung sekitar satu jam atau kurang.

Biasanya anda tidak akan mendapatkan obat penawar rasa sakit kecuali diminta atau sangat menderita. Anda dapat mengatasi rasa sakit selama proses persalinan melalui relaksasi, pernapasan, serta tehnik-tehnik lain yang bisa dipelajari di kelas ibu hamil.
Salah satu metode yang banyak digunakan untuk menawarkan rasa sakit adalah epidural block. Epidural, yang diinjeksikan kedalam tuba dan ditempatkan di belakang punggung sangat efektif mengatasi rasa sakit. Akan tetapi, bila dilakukan terlalu awal justru meningkatkan kemungkinan dilakukannya operasi caesar, yaitu mengeluarkan bayi melalui bedah perut daripada persalinan vaginal yang normal.
Anestesi sumsum tulang belakang biasanya tidak dilakukan sampai menjelang kelahiran, kecuali dokter memutuskan perlu melakukan pembedahan. Hal ini dapat mempengaruhi kemampuan anda mendorong bayi keluar.
Anda dan dokter anda dapat memilih bentuk anestesi lokal lain yang mengatasi rasa sakit tanpa resiko besar melahirkan dengan cara pembedahan. Untuk persalinan itu sendiri, anda dan dokter dapat memilih anestesi lokal yang mampu mengontrol ketidaknyamanan tanpa mempengaruhi kemampuan melahirkan secara alami.
Berkonsultasilah dengan dokter anda tentang cara penanganan rasa sakit selama proses melahirkan.
http://bibilung.wordpress.com/2008/01/14/masa-transisi-saat-melahirkan/
Oleh : Mahasiswa Unsyiah Banda Aceh

Persalinan

Oleh : Mahasiswa Unsyiah Banda Aceh

Sekarang posisi bayi sudah di bawah, masuk ke kanal kelahiran, biasanya dengan kepala di bawah mengarah ke leher rahim yang sudah terbuka. Anda akan merasakan uterus berkontraksi untuk membantu bayi membuka jalan menuju dunia luar. Pada waktu kontraksi terasa, itulah saatnya mengejan. Dengarkanlah desakan hati anda. Menunggu sinyal dari tubuh untuk mengejan akan sangat membantu kelahiran. (Jika anda mendapat epidural untuk mengurangi rasa sakit, desakan hati untuk mengejan akan berkurang.)
Mengejan adalah kerja keras, wajah anda akan memerah dan tubuh basah oleh keringat. Dengan setiap kontraksi dan setiap kali mengejan maka kepala bayi keluar sedikit demi sedikit melalui liang vagina. Kepala bayi mungkin masuk kembali antara setiap kontraksi tetapi segera menyembul kembali. Di tahap ini, kontraksi dapat terjadi setiap 1 sampai 3 menit dengan waktu sela yang pendek untuk “istirahat”.
Munculnya kepala bagian atas secara penuh disebut permahkotaan (crowning). Setelah permahkotaan, kelahiran akan terjadi setelah beberapa kali kontraksi dan mengejan. Bayi lahir dengan kepala lebih dulu terjadi pada 19 dari 20 kelahiran. Siasanya lahir dengan pantat terlebih dulu.

Pada awal persalinan ada rasa yang menusuk atau panas sekali sebagai tanda bahwa bayi sedang melonggarkan jalan di kanal kelahiran. Pada saat anda merasakannya, berhentilah mengejan, tarik napas pendek-pendek dan cepat, dan biarkan kontraksi uterus yang mendorong bayi keluar. Hal ini berlangsung singkat, dan anda akan mengalami mati rasa pada saat kepala bayi melonggarkan liang vagina dan memblokir syaraf-syaraf yang sangat halus disekitarnya.
Staf medis akan memastikan tali pusar tidak melilit leher bayi. Bila diperkirakan jaringan vagina bisa koyak, mereka akan melakukan episiotomi-sayatan untuk menghindarkan koyak. Perlu diketahui bahwa vagina sangat elastis dan mampu merenggang, sehingga pada kelahiran tanpa komplikasi biasanya tidak memerlukan episiotomi.
Bila episiotomi dianggap perlu, anda akan diberikan anestesi lokal lalu area antara vagina dan rektum disayat sedikit agar liang lebih lebar untuk kelahiran. Area ini akan dijahit kembali setelah melahirkan. Para bidan biasanya sudah terlatih melakukan episiotomi.
Kepala bayi akan memutar dari sisi ke sisi untuk memudahkan perjalanannya. Ketika seluruh kepala sudah keluar, leher akan menegak dan kepala memutar untuk menyesuaikan dengan posisi pundaknya. Tubuh bayi akan terus berputar, mula-mula menggerakkan salah satu pundak lalu disusul pundak lainnya sepanjang kanal lahir. Bagian tubuh lainnya menyusul keluar dengan cepat, dan lahirlah sang bayi!

Fetal distress adalah istilah yang dipakai untuk masalah yang dialami bayi. Bayi seharusnya sudah lahir dalam waktu tertentu setelah membran air ketuban pecah. Dokter dapat mengukur tingkat fetal distress dengan cara memantau detak jantungnya. Apabila detakannya tidak segera membaik, dokter tidak akan mengikuti cara persalinan pilihan anda melainkan memilih cara lain yang lebih cepat. Episiotomi, operasi cesar, atau penggunaan forsep (tang jepit) mungkin diperlukan untuk memastikan bayi lahir dengan selamat.
Masalah yang membahayakan ibu dapat terjadi selama persalinan, tetapi dengan adanya fasilitas modern, hal ini sudah cenderung berkurang. Kondisi anda akan terus dipantau selama persalinan untuk mewaspadai munculnya tanda-tanda komplikasi.

Persalinan belum sempurna sebelum plasenta keluar. Biasanya hal ini terjadi antara 5 sampai 45 menit setelah bayi lahir. Dinding uterus berkontraksi beberapa kali untuk melepaskan plasenta. Mungkin timbul rasa sakit tetapi intensitasnya lebih ringan ketimbang kontraksi untuk mendorong bayi keluar. Darah mengalir keluar dari vagina, tali pusar memanjang, uterus dan perut melembung pada saat plasenta keluar dari uterus menuju vagina, dan akhirnya uterus mengencang kembali.
Sekarang posisi bayi sudah di bawah, masuk ke kanal kelahiran, biasanya dengan kepala di bawah mengarah ke leher rahim yang sudah terbuka. Anda akan merasakan uterus berkontraksi untuk membantu bayi membuka jalan menuju dunia luar. Pada waktu kontraksi terasa, itulah saatnya mengejan. Dengarkanlah desakan hati anda. Menunggu sinyal dari tubuh untuk mengejan akan sangat membantu kelahiran. (Jika anda mendapat epidural untuk mengurangi rasa sakit, desakan hati untuk mengejan akan berkurang.) Mengejan adalah kerja keras, wajah anda akan memerah dan tubuh basah oleh keringat. Dengan setiap kontraksi dan setiap kali mengejan maka kepala bayi keluar sedikit demi sedikit melalui liang vagina. Kepala bayi mungkin masuk kembali antara setiap kontraksi tetapi segera menyembul kembali. Di tahap ini, kontraksi dapat terjadi setiap 1 sampai 3 menit dengan waktu sela yang pendek untuk “istirahat”. Munculnya kepala bagian atas secara penuh disebut permahkotaan (crowning). Setelah permahkotaan, kelahiran akan terjadi setelah beberapa kali kontraksi dan mengejan. Bayi lahir dengan kepala lebih dulu terjadi pada 19 dari 20 kelahiran. Siasanya lahir dengan pantat terlebih dulu. Pada awal persalinan ada rasa yang menusuk atau panas sekali sebagai tanda bahwa bayi sedang melonggarkan jalan di kanal kelahiran. Pada saat anda merasakannya, berhentilah mengejan, tarik napas pendek-pendek dan cepat, dan biarkan kontraksi uterus yang mendorong bayi keluar. Hal ini berlangsung singkat, dan anda akan mengalami mati rasa pada saat kepala bayi melonggarkan liang vagina dan memblokir syaraf-syaraf yang sangat halus disekitarnya. Staf medis akan memastikan tali pusar tidak melilit leher bayi. Bila diperkirakan jaringan vagina bisa koyak, mereka akan melakukan episiotomi-sayatan untuk menghindarkan koyak. Perlu diketahui bahwa vagina sangat elastis dan mampu merenggang, sehingga pada kelahiran tanpa komplikasi biasanya tidak memerlukan episiotomi. Bila episiotomi dianggap perlu, anda akan diberikan anestesi lokal lalu area antara vagina dan rektum disayat sedikit agar liang lebih lebar untuk kelahiran. Area ini akan dijahit kembali setelah melahirkan. Para bidan biasanya sudah terlatih melakukan episiotomi. Kepala bayi akan memutar dari sisi ke sisi untuk memudahkan perjalanannya. Ketika seluruh kepala sudah keluar, leher akan menegak dan kepala memutar untuk menyesuaikan dengan posisi pundaknya. Tubuh bayi akan terus berputar, mula-mula menggerakkan salah satu pundak lalu disusul pundak lainnya sepanjang kanal lahir. Bagian tubuh lainnya menyusul keluar dengan cepat, dan lahirlah sang bayi! Fetal distress adalah istilah yang dipakai untuk masalah yang dialami bayi. Bayi seharusnya sudah lahir dalam waktu tertentu setelah membran air ketuban pecah. Dokter dapat mengukur tingkat fetal distress dengan cara memantau detak jantungnya. Apabila detakannya tidak segera membaik, dokter tidak akan mengikuti cara persalinan pilihan anda melainkan memilih cara lain yang lebih cepat. Episiotomi, operasi cesar, atau penggunaan forsep (tang jepit) mungkin diperlukan untuk memastikan bayi lahir dengan selamat. Masalah yang membahayakan ibu dapat terjadi selama persalinan, tetapi dengan adanya fasilitas modern, hal ini sudah cenderung berkurang. Kondisi anda akan terus dipantau selama persalinan untuk mewaspadai munculnya tanda-tanda komplikasi. Persalinan belum sempurna sebelum plasenta keluar. Biasanya hal ini terjadi antara 5 sampai 45 menit setelah bayi lahir. Dinding uterus berkontraksi beberapa kali untuk melepaskan plasenta. Mungkin timbul rasa sakit tetapi intensitasnya lebih ringan ketimbang kontraksi untuk mendorong bayi keluar. Darah mengalir keluar dari vagina, tali pusar memanjang, uterus dan perut melembung pada saat plasenta keluar dari uterus menuju vagina, dan akhirnya uterus mengencang kembali.

Tahapan-tahapan Melahirkan

Pralahir: Turunnya kepala bayi ke arah panggul disebut “pembukaan”. Pembukaan terjadi antara beberapa hari sampai beberapa minggu sebelum kelahiran, tergantung sudah berapa kali melahirkan.
Awal kelahiran: Pada tahap ini, uterus mengalami kontraksi yang tak teratur dengan intensitas sedang sampai keras. Selama kontraksi, kantung ketuban sewaktu-waktu bisa pecah.
Fase transisi: Ketika persalinan berlanjut, leher rahim berdilatasi (bertambah lebar), memudahkan bayi memasuki saluran lahir.
Fase Turun: Pada kelahiran yang normal, kepala keluar lebih dulu. Sebuah episiotomi mungkin diperlukan untuk melebarkan liang vagina.
Kelahiran: Setelah kepala keluar, bayi diputar untuk menuntaskan persalinan.
Tali pusar dipotong untuk memisahkan bayi dari plasenta (sesudah lahir).
Uterus berkontraksi kuat beberapa kali untuk mendorong plasenta keluar. Dokter atau perawat mungkin memijat perut anda untuk mempercepat lepasnya plasenta.
Plasenta keluar dengan tali pusar masih melekat. Dokter atau perawat akan memeriksa apakah plasenta sudah keluar semua.

 Oleh : Mahasiswa Unsyiah Banda Aceh
http://bibilung.wordpress.com/2008/01/16/tahapan-tahapan-melahirkan/

Tiga Tahap Persalinan Normal

 Oleh : Mahasiswa Unsyiah Banda Aceh

by dr SalmaProses kelahiran bayi yang berlangsung normal dibagi dalam tiga tahap atau kala. Penting sekali bagi Anda untuk mengetahui proses tersebut agar Anda bisa menyikapinya secara tepat. Tahap pertama (pembukaan)
  • Tahap ini merupakan yang paling lama, dimulai dari kontraksi sampai saluran rahim terbuka penuh oleh kepala bayi. Pada persalinan pertama, prosesnya bisa lebih dari 18 jam, sementara pada persalinan kedua dan seterusnya antara 2-3 jam.
  • Kontraksi yang lemah namun teratur dimulai dari bagian atas rahim ke bawah sampai vagina, biasanya diawali dengan nyeri di punggung terus menjalar menjadi seperti kram di perut bawah.
  • Sedikit demi sedikit kontraksi akan semakin seringdan kencang untuk mengeluarkan mendesak kepala bayi ke mulut rahim. Setiap kontraksi berlangsung 30 sampai 60 detik. Jarak antar kontraksi adalah 10-20 menit. Rasa sakit menghilang setiap kali rahim mengendor.
  • Mulut rahim menjadi lunak, tipis dan melebar sehingga memudahkan bayi keluar dari rahim.
  • Sedikit cairan dan darah biasanya ikut menyertai proses persalinan, sebelum akhirnya pecah air ketuban.
Tahap kedua (mengedan)
  • Tahap dari pembukaan penuh sampai bayi lahir. Dalam tahap ini bayi lahir melalui mulut rahim ke vagina, lalu dikeluarkan. Tahap ini biasanya berlangsung kurang dari satu jam untuk persalinan pertama. Pada persalinan kedua, hanya sekitar 20 menit.
  • Ibu akan merasakan keinginan untuk mengedan (menekan otot perut) dan merasakan sensasi seperti orang yang ingin buang air besar. Semakin lama, dorongan mengedan itu akan semakin kuat dan sering. Bayi lalu akan keluar melalui mulut rahim.
  • Pada posisi normal di mana kepala keluar terlebih dahulu, kepala bayi berfungsi sebagai pembuka jalan. Dengan demikian, bayi dapat bernafas bahkan sebelum seluruh badan keluar dari rahim.
Tahap ketiga (plasenta)
  • Pada tahap ini plasenta (jawa: ari-ari) akan terlepas dari dinding rahim. Prosesnya biasanya terjadi 15-20 menit setelah kelahiran bayi.
  • Kontraksi rahim yang keras terus berlanjut setelah kelahiran bayi dan akan menekan pembuluh darah, mengurangi perdarahan dan menyebabkan plasenta lepas dari dinding rahim.
http://bibilung.wordpress.com/2008/02/26/tiga-tahap-persalinan-normal/

Segera Ber-KB Pasca Melahirkan, Apa Perlunya?

 Oleh : Mahasiswa Unsyiah Banda Aceh
Banyak hal negatif bisa terjadi jika ibu terlalu cepat hamil setelah melahirkan. Ketika bayinya masih berusia empat bulan, Astina Bakti hamil anak kedua. Ia merasa bimbang menerima anugerah tersebut. Di satu sisi, kehadiran anak kedua memang bagian dari rencana sekaligus harapan hidupnya di masa depan. Namun, si kecil ‘datang’ terlalu cepat. ”Sekarang, memberikan ASI (air susu ibu) eksklusif saja sudah penuh perjuangan apalagi dengan kondisi hamil seperti ini,” keluhnya.
Tiap kehamilan selayaknya memang direncanakan dan diharapkan keberlangsungannya. Namun, banyak orang yang nyatanya tak mampu mencapai kondisi ideal tersebut. Alhasil, mereka menerima karunia luar biasa itu dengan muka kecut. Astina khawatir pasokan ASI-nya terhenti. Ia juga khawatir si sulung akan kurang perhatian. ”Saya juga cemas memikirkan biaya untuk membesarkan si kecil nantinya,” cetus Astina.
Banyak faktor yang menyebabkan kehamilan tak terencana. Salah satunya, karena tidak ber-KB. Selama ini, Astina yakin dirinya tidak akan hamil pada masa pemberian ASI eksklusif. ”Padahal, kondisi itu hanya bisa tercapai kalau menyusuinya sempurna dan ibu tidak terlalu subur,” komentar ustadzah Dr dr Hj Isnawati Rais MA dalam talkshow interaktif bertema: Menopause dan Keluarga Berencana Ceria yang diselenggarakan RSIA Muhammadiyah, Taman Puring, Jakarta, Ahad (27/4).
Kondisi ibu belum memungkinkan
Andai saja Astina ber-KB segera setelah melahirkan, dilema semacam itu tak akan menghinggapi dirinya. Apa perlunya segera ber-KB pasca melahirkan? Dr Dewi Rumiris SpOG berpendapat, KB penting untuk kebahagiaan keluarga. ”Utamanya terkait kesehatan ibu dan anak,” cetusnya.
Beberapa saat setelah melahirkan, tubuh sesungguhnya masih dalam tahap pemulihan. Kadar hemoglobin (Hb), protein, dan kalsium tubuh belum lagi kembali ke kadar yang normal. ”Karena itu, kondisi ibu tak memungkinkan untuk langsung mengandung lagi,” jelas dokter yang akrab disapa Riris ini. Andaikan beberapa bulan setelah melahirkan terjadi kehamilan, pertumbuhan janin bisa terpengaruh menyusul rendahnya sel darah merah ibu. Efeknya tak bisa diremehkan. ”Akan terlahir bayi kecil dan gampang hiperglikemia (kadar gula darah meningkat secara drastis),” urai Riris.
Rendahnya Hb juga dapat memengaruhi masa persalinan. Prosesnya akan menjadi panjang dan ibu membutuhkan rangsangan karena pembukaan mandek, tak maju-maju. ”Bisa juga terjadi perdarahan akibat kontraksi rahim yang tidak adekuat (memadai) untuk merapatkan kembali rahim,” ucap Riris yang meraih gelar dokter umum dari Unversitas Padjadjaran, Bandung ini. Sementara itu, kurangnya kadar protein akan berdampak pada pertumbuhan uterus, payudara, plasenta, dan juga janin. Pada bayi, efeknya akan mudah terlihat oleh dokter. ”Di usia kandungan delapan bulan, beratnya mungkin cuma 1.500 gram,” kata Riris.
Rendahnya kadar protein dalam darah ibu dapat pula menyebabkan plasenta letak rendah dan plasenta previa yang menyulitkan proses melahirkan. Itu terjadi lantaran janin kurang asupan makanan. Maka, janin pun mencari tambahan makanan dari ari-ari. Akibatnya, ari-ari menjadi melebar, menutup jalan lahir, dan dapat mengakibatkan perdarahan pada bulan-bulan terakhir masa kehamilan. ”Jika sudah demikian, ibu harus dioperasi caesar,” imbuh dokter yang menamatkan studi spesialis kebidanan dan kandungan pada Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) ini.
Belum normalnya kadar kalsium di tubuh ibu pun punya pengaruh yang tak kalah dahsyatnya. Seorang pasien Riris mengalami kerontokan gigi dalam jumlah banyak. Kemalangan itu didapat oleh ibu berusia 38 tahun yang hamil anak ke lima setelah beberapa bulan melahirkan putra keempat. ”Ibu tersebut juga malas minum suplemen kalsium,” ungkap Riris.
Selain masalah fisik, kehamilan yang beruntun juga ada pengaruhnya pada kondisi psikis, terutama pada ibu dan anak yang dilahirkan sebelumnya. Pengasuhan anak dapat terbengkalai. Padahal, masa balita adalah periode emas tumbuh kembang anak, masa pembentukan kepribadiannya dan pertumbuhan otak. Asupan ASI terhadap si kecil juga berpotensi terganggu. ”Jika ini terjadi, kecukupan nutrisi otak dan tubuh bayi tentu akan bermasalah,” ujar Riris. Berbahaya,

Peran Suami, Siapkan Bahu & Telinga Menjelang Persalinan

 Oleh : Mahasiswa Unsyiah Banda Aceh

MENUNGGU hari persalinan bisa menjadi pengalaman yang menegangkan sekaligus melelahkan. Dengan usia kandungan yang semakin tua, apa pun bisa terjadi pada ibu hamil. Cemas, gelish, takut, stres, marah-marah, mulas, keluhan sakit perut, sampai kontraksi yang frekuensinya makin sering, jamak dialami oleh ibu menjelang persalinannya. Nah, suami bisa berperan untuk meringankan beban istrinya. “Yang terpenting, keberadaan suami di sisi istri yang tengah berjuang hendak melahirkan si buah hati ke dunia sangatlah penting dalam menciptakan rasa aman dan nyaman. Selalu ada setiap kali istri membutuhkan!” tegas Anna Surti Ariani Psi dari Medicare Clinic, Menara Kadin, Kuningan, Jakarta.
Temani ke Dokter
Dr Andon Hestiantoro SpOG(K) yang berpraktek di RSCM, menjelaskan dukungan dan peran suami yang baik dan benar sangat membantu istri yang sedang hamil untuk mengenali risiko-risiko yang mungkin mengganggu kehamilan serta persalinan sejak dini. “Tak peduli kehamilan pertama atau kesekian, dampingan suami tetap diperlukan saat istri memeriksakan kehamilannya. Dampingan ini akan sangat membantu suami untuk mengetahui sekaligus mengikuti tahap demi tahap perkembangan bayi mereka, apakah ada masalah atau tidak. Selain itu suami pun jadi terbantu memahami gejolak emosi sang istri,” jelasnya.
Saat mendampingi pasangan memeriksakan kandungannya, posisikan diri sebagai mitra yang membantu mencari jalan keluar bersama-sama demi perkembangan optimal janin. Kalaupun ada keluhan, besarkan hatinya agar mau berkonsultasi ke dokter dan mendapat jawaban pasti dari ahlinya. Kalaupun hasilnya dianggap kurang memuaskan, ajukan alternatif untuk kepastian jalan terbaiknya ke dokter yang lebih ahli ataupun rumah sakit yang lebih besar.
Jika peran suami dijalankan, diharapkan keterlambatan yang kerap menjadi penyebab kematian ibu melahirkan tidak akan terjadi. “Keterlambatan yang dimaksud mencakup terlambat mengetahui kelainan kehamilan dan persalinan, terlambat memutuskan untuk segera ke fasilitas pelayanan kesehatan, dan terlambat menerima perawatan yang tepat,” terang dokter yang juga menjabat sebagai Kepala Klinik Yasmin, klinik terpadu untuk kesehatan reproduksi pria dan wanita.
Dampingi Sampai Masa Bersalin Tiba
Saat persalinan berlangsung, perasaan gelisah, cemas dan takut juga menghinggapi sang istri. Ini antara lain karena adaptasi dengan suasana kamar bersalin yang tentu baru bagi ibu. Di samping itu, rasa sakit selama proses persalinan juga sangat mengganggu suasana hati ibu. Pemeriksaan-pemeriksaan yang dilakukan bidan atau dokter untuk menilai kemajuan persalinan juga dapat meningkatkan kegelisahan.
Apalagi, proses persalilnan yang membutuhkan waktu 8-12 jam, membutuhkan kesabaran, kekuatan fisik dan mental ibu. Dukungan suami tentu akan membuatnya kooperatif dan sangat tenang. Sebaliknya, kalau ibu stres, keseimbangan hormon, enzim dan energi yang sangat diperlukan untuk kelancaran proses persalinan bisa terganggu,” alas dr Andon.(Mom& Kiddie//tty)
http://bibilung.wordpress.com/2008/06/24/peran-suami-siapkan-bahu-telinga-menjelang-persalinan/ 

Pengalaman Keguguran Picu Komplikasi Persalinan

 Oleh : Mahasiswa Unsyiah Banda Aceh

Sebagian wanita kurang beruntung mengalami keguguran beberapa kali dan yang mengalami kehamilan risiko tinggi. Nyatanya wanita yang hanya satu kali mengalami keguguran pun cenderung mengalami komplikasi pada kehamilan berikutnya. Demikian menurut peneliti asal Skotlandia. “Penelitian kami berdasarkan analisis catatan kehamilan terhadap lebih dari 32.000 wanita, yang menunjukkan keguguran yang terjadi meskipun hanya satu kali meningkatkan risiko komplikasi pada kehamilan berikutnya,” ujar Dr. Sohinee Bhattacharya dari Aberdeen Maternity Hospital.
Untuk penelitian tersebut, Bhattacharya dan tim peneliti menganalisi kehamilan dari 1.561 wanita yang mengalami keguguran pertama, 10.549 wanita mengalami persalinan nomral sebelumnya dan 21.118 wanita yang hamil pertama kali.
Dibandingkan dengan wanita hamil yang pernah melahirkan dan wanita hamil pertama kali, kelompok yang mengalami pernah mengalami keguguran memiliki risiko lebih besar terhadap komplikasi yang tidak menguntungkan.
Termasuk ancaman keguguran, kebutuhan induksi selama persalinan, persalinan dengan peralatan kedokteran, pendarahan usai persalinan dan persalinan prematur.
“Untuk sebagian besar wanita, risko tersebut sangat kecil,” ujar Bhattacharya sambil menambahkan perlunya kewaspadaan ekstra sebaiknya tidak hanya ditujukan pada wanita hamil yang mengalami beberapa kali keguguran.
http://bibilung.wordpress.com/2009/02/05/pengalaman-keguguran-picu-komplikasi-persalinan/